Minggu, 06 Mei 2012

Lingkungan, begitu hebatkah??


Lingkungan itu hebat ya?
Lingkungan bisa mengubah orang yang –bahkan- sangat teguh pendirianya. Dulu sekali, sahabatku terpengaruh lingkungan sekitar hingga berbalik memusuhiku. Ibuku, kakak perempuanku, juga berubah drastis karena pengaruh lingkungan. Kini ayahku juga berubah karena lingkungan. Ya memang sedikit membawa pengaruh baik, tapi menurutku jauh lebih membawa pengaruh buruk. Inikah yang di sebut labil? Aku tak tau dan tak pernah tau.


Dulu ibuku tidak memakai jilbab, aku akui lingkingan membawa perubahan baik untuk ibuku. Kini ibuku berjilbab. Pengaruh yang baik bukan? Seakan tak puas disitu, lingkungan juga membawa pengaruh buruk untuk ibuku. Dulu waktu aku masih kecil, aku masih ingat, ibuku adalah pribadi yang sangat hangat dan sangat lembut. Ibuku bahkan lebih suka menangis untuk melampiaskan emosinya dariada harus marah dan bicara kasar. Ibuku tak pernah bicara kasar padaku. Tapi lagi-lagi karena lingkungan, kini ibuku tak jarang bicara kasar. Aku muak mendengar ibuku berbicara dengan keras dan kasar. Terutama jika di depan adik dan keponakanku. Bagaimana kepribadian mereka bisa berkembang baik jika di tanamkan sifat kasar seperti itu? benar-benar tak habis pikir. Sejak kapan ibuku jadi seperti ini?


Kakak perempuanku, tadinya dia adalah sosok idolaku. Dia cantik, pintar, rajin beribadah, mampu berhemat dan sangat bertanggung jawab. Setelah memasuki dunia kerja, kakakku seperti berubah. Dia jadi sosok yang sangat menyebalkan. Dia jaddi sering berbohong pada ibuku, seperti bermuka dua di mataku. Di depan orang tuaku dia sangat sopan, dan terlihat sangat dewasa. Tapi di belakang, kakak perempuanku ini sangat boros, sangat labil dan sama sekali tidak mencerminkan sikap dewasa dalam dirinya. Keadaan semakin parah setelah kakakku menikah. Dia jadi jauh lebih menyebalkan dari siapa pun yang pernah ku temui. Inikah pengaruh hebat lingkungan?


Ayahku, aku menganalnya sebagai pribadi yang perpendirian sangat teguh. Seperti pahlawan di mataku. Ayahku mampu berhenti merokok. Mampu membiayai sekolahku hingga ke perguruan tinggi. Mampu memenuhi kebutuhanku dan adikku tanpa kekurangan sedikitpun. Aku bangga memiliki ayah seperti dia. Tapi, belakangan ini ayahku sedang dipusingkan oleh masalah-masalah hidupnya. Aku memang tak begitu mengerti. Tapi aku tau bahwa yang di tanggung oleh ayahku bukan masalah sepele. Ayahku bahkan merokok lagi dengan alasan untuk sedikit meringankan pikirannya. Ayah, maafkan aku yang hingga saat ini tak mampu membahagiakanmu. Aku hanya mampu menambah bebanmu. Maafkan anakmu ini.


Itulah lingkungan. Sedangkan aku? Aku tak ingin menjadi buruk karena lingkungan. Aku tau kemungkinan aku berubah menjadi buruk karena lingkungan sangat besar. Tapi aku harap aku tak akan pernah terjerumus ke dalamnya.


Seperti dia, entah ini pengaruh lingkunga atau kemauannya sendiri. Tapi dia menjadi sosok paling menyebalkan saak ini. Buatku muak dan kesal. Aku tak tau apa yang dipikirkannya. Tapi dia selalu saja melakukan sesuatu yang aku tak suka. Entah hanya firasatku atau apa. Tapi aku rasa dia berusaha menjadi sosok yang aku benci. Aku benci dia mengabaikanku, aku benci semua sikapnya yang seakan tak peduli padaku. Dan itu selalu berulang di hari jum’at atau sabtu. That’s cause I really hate fucking Saturday.


Untuk dia, bisakah berhenti membuatku kesal? Bisakah hargai sedikit saja perasaanku? Bisakah berhenti menjadi sosok MENYEBALKAN? Kesabaranku ada batasannya. Jujur saja aku lelah mengerti sikapmu yang selalu saja buatku kesal. Bisakah lakukan itu untukku? Kau sempat memenuhi permintaanku untuk tak pernah berubah bukan? Bisa tepati janjimu? Aku lelah menghadapi sikapmu.


Mungkin dia tak akan membaca tulisanku ini. Semoga saja, dia sadar atas apa yang sudah dia lakukan.



-D.R.A-


Menikah, Perlukah??


6 mei 2012
00.34 am
Aku terbangun dari tidurku, aku sudah bisa menebak malam ini tidurku tak akan terasa nyaman. Mungkin karena aku terlalu banyak berpikir, mungkin karena aku terlalu membenci ‘dunianya’. Aku tau harusnya aku bisa menerimanya, tapi entah mengapa rasa benciku semakin kuat. Sungguh aku sangat membenci ‘dunianya’. I REALLY HATE FVCKING SATURDAY. Untuk dia, maafkan sikap egoisku. Aku tau aku sangat egois, maafkan aku.

Sebenarnya ada satu lagi yang mengganggu pikiranku saat ini. Aku sudah mencoba untuk tidak memikirkannya. Tapi rasanya terus berputar di kepalaku. Sederhana saja sebenarnya, tapi entah mengapa terasa sangat mengganggu.

Menikah. Itulah yang sangat mengganggu pikiranku saat ini. Dulu aku sempat memimpikan sebuah pernikahan yang indah –meskipun belum tau dengan siapa-. Aku dulu –usiaku saat itu belum 17 tahun- ingin menikah dengan pesta sederhana, mengenakan gaun putih. Dulu saat usiaku belum 17 tahun, ada seseorang yang menginginkan aku menjadi isterinya, dia memberiku sebuah cincin, memegang tanganku sambil berkata ‘mau kan jadi isteriku?’. Aku sangat malu saat itu, tapi sejak saat itulah aku banyak membayangkan tentang menikah, dinikahi oleh seorang yang –saat itu- aku sayangi aku rasa adalah impian setiap wanita. Lucu jika mengingatnya, padahal aku belum lulus SMA saat itu.

Aku tak menyangka, hubunganku dengan lelaki itu harus berakhir. Meskipun hubungan kami sudah 1 tingkat di atas ‘pacaran’. Memang belum resmi, tapi dia sudah melamarku (hahaha). Sejak aku berpisah dengannya. Aku ‘sedikit’ tidak percaya dengan lelaki manapun. Kekasihku setelahnya pun pernah berbicara tentang masa depan padaku, tapi aku tak menanggapi secara serius. Dan benar saja, hubunganku dengannya tak bertahan lama. Setelah itu, sungguh aku tak ingin menikah. Aku berpikir bahwa semua lelaki sama saja, menginginkan aku untuk masa depannya tapi tak pernah berusaha mempertahankanku. Aku selalu muak tiap ada yang bertanya padaku setelah aku lulus SMA (terutama keluarga besar dari ibuku) ‘ kapan menikah’?. Aku merasa konyol tiap aku mendengar kabar bahwa temanku akan menikah. Dulu aku sangat menginginkannya. Dan sekarang mungkin aku sangat tidak menginginkannya.

Andri Pratama, sering memanggilku ‘calon isteri’. Aku tak tau apakah itu hanya sekedar bualan atau apa. Aku tak ingin menanggapi serius. Simple saja, aku masih harus menyelesaikan pendidikanku 3 tahun lagi di bangku kuliah. Dan aku masih harus membahagiakan orant tuaku setelahnya. Itu alasanku.

Tapi hari ini kata “MENIKAH” sungguh menggangguku. Begitu banyak pertanyaanku tantang kata itu. dengan siapakah aku menikah? Dimana aku akan menikah? Kapan aku akan menikah? Pentingkah sebuah pernikahan itu? haruskah seseorang menikah? Dan yang paling menggangguku, ‘INGINKAH AKU MENIKAH?’ aku tak menginginkan jawaban atas dsar agama. Aku ingin jawaban yang logis dan manusiawi. Adakah yang bisa menjawab pertanyaanku?

Bekasi, 6 mei 2012
00.58 am
-D.R.A-

Sabtu, 05 Mei 2012

Untitled


04 mei 2012
02.47 am
Apa yang membuatku terjaga hingga hari menjelang pagi seperti ini? Jika kekasihku tau aku membaca novel sampai jam 3 pagi sudah pasti dia akan marah besar padaku. Aku memang bandel, suka mengabaikan kesehatanku hingga membuat orang-orang di sekitarku khawatir, lalu dengan entengnya aku berkata “gak pa-pa kan sekali-sekali?”


Kamis, 03 Mei 2012

Children See, Children Do


Children imitate that they see around them such as smoking, talking on a phone of loud, and many more. So, make sure that you’re setting a good example. Because children do what they see. Children see, children do.