Rabu, 01 Mei 2013

1 mei 2013

Hari ini di kenal sebagai hari buruh, demo dimana-mana, rame, macet wahh ruwet banget deh pokonya.
tapi hari ini ada sesuatu yang lain yang gue rasain, awalnya sih seneng ya, namanya juga mau ketemu pacar meskipun cuma ke kampus doang. awalnya sih ngga ada masalah, tapi semuanya berubah saat negara api menyerang (loh?) maksud gue, semuanya berubah saat dia sibuk sama bb gue. gue yang iseng ngga ada kerjaan buka-buka hape dia, gak buka inbox koq, beneran deh. gue cuma buka sent item, cuma ada nama gue disitu, sampe ngga sengaja gue namuin ada nama lain, dosen kayaknya, dosen yang sempet bikin hubungan gue sama dia keruh beberapa minggu lalu. gue penasaran trus gue buka tuh sms, sumpah gue sakit hati banget bacanya. dia bilang, dia ngga ada hubungan apa" sama dosen itu, tapi dia curhat curhatan sama dosen itu, dia bisa nenangin dosen itu, bisa ngehibur tu dosen, ADA BUAT DOSEN ITU SEMENTARA DIA NGGA PERNAH ADA BUAT GUE!

dulu gue mulai hubungan ini dengan dasar percaya dan setia, trus setelah apa yang dia lakuin ke gue, apa gue bisa percaya lagi sama dia? ngga tau deh gue bingung, buat maafin dia aja rasanya berat banget, dia bahkan ngga ngejelasin apapun, yang dia lakuin cuma minta maaf nd terus minta maaf. dan setelahnya gue tau kalo MAAF NGGA MENYELESAIKAN APAPUN. maaf itu ngga nyembuhin luka hati gue, ngga ngeredain marah gue nd ngga bisa bikin gue percaya lagi sama dia. trus hubungan ini mau di bawa kemana?

entahlah, gue bingung nd ngga tau harus gimana

Wayang Favorit : Pandawa 5


Pandawa

Pandawa adalah sebuah kata dari bahasa Sanskerta (Dewanagari: पाण्डव; Pāṇḍava), yang secara harfiah berarti anak Pandu (Dewanagari: पाण्डु; IAST: Pāṇḍu), yaitu salah satu Raja Hastinapura dalam wiracarita Mahabharata. Dengan demikian, maka Pandawa merupakan putra mahkota kerajaan tersebut. Dalam wiracarita Mahabharata, para Pandawa adalah protagonis sedangkan antagonis adalah para Korawa, yaitu putera Dretarastra, saudara ayah mereka (Pandu). Menurut susastra Hindu (Mahabharata), setiap anggota Pandawa merupakan penjelmaan (penitisan) dari Dewa tertentu, dan setiap anggota Pandawa memiliki nama lain tertentu. Misalkan nama "Werkodara" arti harfiahnya adalah "perut serigala". Kelima Pandawa menikah dengan Dropadi yang diperebutkan dalam sebuah sayembara di Kerajaan Panchala, dan memiliki (masing-masing) seorang putera darinya.
Para Pandawa merupakan tokoh penting dalam bagian penting dalam wiracarita Mahabharata, yaitu pertempuran besar di daratan Kurukshetra antara para Pandawa dengan para Korawa serta sekutu-sekutu mereka. Kisah tersebut menjadi kisah penting dalam wiracarita Mahabharata, selain kisah Pandawa dan Korawa main dadu.

Silsilah
Para Pandawa terdiri dari lima orang pangeran, tiga di antaranya (Yudistira, Bima, dan Arjuna) merupakan putra kandung Kunti, sedangkan yang lainnya (Nakula dan Sadewa) merupakan putra kandung Madri, namun ayah mereka sama, yaitu Pandu.

Penitisan
Menurut tradisi Hindu, kelima putra Pandu tersebut merupakan penitisan tidak secara langsung dari masing-masing Dewa. Hal tersebut diterangkan sebagai berikut:
Yudistira penitisan dari Dewa Yama, dewa akhirat;
Bima penitisan dari Dewa Bayu, dewa angin;
Arjuna penitisan dari Dewa Indra, dewa perang;
Nakula dan Sadewa penitisan dari dewa kembar Aswin, dewa pengobatan.




Anggota
Yudistira
Yudistira merupakan saudara para Pandawa yang paling tua. Ia merupakan penjelmaan dari Dewa Yama dan lahir dari Kunti. Sifatnya sangat bijaksana, tidak memiliki musuh, dan hampir tak pernah berdusta seumur hidupnya. Memiliki moral yang sangat tinggi dan suka mema’afkan serta suka mengampuni musuh yang sudah menyerah. Memiliki julukan Dhramasuta (putera Dharma), Ajathasatru (yang tidak memiliki musuh), dan Bhārata (keturunan Maharaja Bharata). Ia menjadi seorang Maharaja dunia setelah perang akbar di Kurukshetra berakhir dan mengadakan upacara Aswamedha demi menyatukan kerajaan-kerajaan India Kuno agar berada di bawah pengaruhnya. Setelah pensiun, ia melakukan perjalanan suci ke gunung Himalaya bersama dengan saudara-saudaranya yang lain sebagai tujuan akhir kehidupan mereka. Setelah menempuh perjalanan panjang, ia mendapatkan surga.
Bima
Bima merupakan putra kedua Kunti dengan Pandu. Nama bhimā dalam bahasa Sanskerta memiliki arti "mengerikan". Ia merupakan penjelmaan dari Dewa Bayu sehingga memiliki nama julukan Bayusutha. Bima sangat kuat, lengannya panjang, tubuhnya tinggi, dan berwajah paling sangar di antara saudara-saudaranya. Meskipun demikian, ia memiliki hati yang baik. Pandai memainkan senjata gada. Senjata gadanya bernama Rujakpala dan pandai memasak. Bima juga gemar makan sehingga dijuluki Werkodara. Kemahirannya dalam berperang sangat dibutuhkan oleh para Pandawa agar mereka mampu memperoleh kemenangan dalam pertempuran akbar di Kurukshetra. Ia memiliki seorang putera dari ras rakshasa bernama Gatotkaca, turut serta membantu ayahnya berperang, namun gugur. Akhirnya Bima memenangkan peperangan dan menyerahkan tahta kepada kakaknya, Yudistira. Menjelang akhir hidupnya, ia melakukan perjalanan suci bersama para Pandawa ke gunung Himalaya. Di sana ia meninggal dan mendapatkan surga. Dalam pewayangan Jawa, dua putranya yang lain selain Gatotkaca ialah Antareja dan Antasena.
Arjuna
Arjuna merupakan putra bungsu Kunti dengan Pandu. Namanya (dalam bahasa Sanskerta) memiliki arti "yang bersinar", "yang bercahaya". Ia merupakan penjelmaan dari Dewa Indra, Sang Dewa perang. Arjuna memiliki kemahiran dalam ilmu memanah dan dianggap sebagai ksatria terbaik oleh Drona. Kemahirannnya dalam ilmu peperangan menjadikannya sebagai tumpuan para Pandawa agar mampu memperoleh kemenangan saat pertempuran akbar di Kurukshetra. Arjuna memiliki banyak nama panggilan, seperti misalnya Dhananjaya (perebut kekayaan – karena ia berhasil mengumpulkan upeti saat upacara Rajasuya yang diselenggarakan Yudistira); Kirti (yang bermahkota indah – karena ia diberi mahkota indah oleh Dewa Indra saat berada di surga); Partha (putera Kunti – karena ia merupakan putra Perta alias Kunti). Dalam pertempuran di Kurukshetra, ia berhasil memperoleh kemenangan dan Yudistira diangkat menjadi raja. Setelah Yudistira mangkat, ia melakukan perjalanan suci ke gunung Himalaya bersama para Pandawa dan melepaskan segala kehidupan duniawai. Di sana ia meninggal dalam perjalanan dan mencapai surga.

Nakula
Nakula merupakan salah satu putera kembar pasangan Madri dan Pandu. Ia merupakan penjelmaan Dewa kembar bernama Aswin, Sang Dewa pengobatan. Saudara kembarnya bernama Sadewa, yang lebih kecil darinya, dan merupakan penjelmaan Dewa Aswin juga. Setelah kedua orangtuanya meninggal, ia bersama adiknya diasuh oleh Kunti, istri Pandu yang lain. Nakula pandai memainkan senjata pedang. Dropadi berkata bahwa Nakula merupakan pria yang paling tampan di dunia dan merupakan seorang ksatria berpedang yang tangguh. Ia giat bekerja dan senang melayani kakak-kakaknya. Dalam masa pengasingan di hutan, Nakula dan tiga Pandawa yang lainnya sempat meninggal karena minum racun, namun ia hidup kembali atas permohonan Yudistira. Dalam penyamaran di Kerajaan Matsya yang dipimpin oleh Raja Wirata, ia berperan sebagai pengasuh kuda. Menjelang akhir hidupnya, ia mengikuti pejalanan suci ke gunung Himalaya bersama kakak-kakaknya. Di sana ia meninggal dalam perjalanan dan arwahnya mencapai surga.
Sadewa
Sadewa merupakan salah satu putera kembar pasangan Madri dan Pandu. Ia merupakan penjelmaan Dewa kembar bernama Aswin, Sang Dewa pengobatan. Saudara kembarnya bernama Nakula, yang lebih besar darinya, dan merupakan penjelmaan Dewa Aswin juga. Setelah kedua orangtuanya meninggal, ia bersama kakaknya diasuh oleh Kunti, istri Pandu yang lain. Sadewa adalah orang yang sangat rajin dan bijaksana. Sadewa juga merupakan seseorang yang ahli dalam ilmu astronomi. Yudistira pernah berkata bahwa Sadewa merupakan pria yang bijaksana, setara dengan Brihaspati, guru para Dewa. Ia giat bekerja dan senang melayani kakak-kakaknya. Dalam penyamaran di Kerajaan Matsya yang dipimpin oleh Raja Wirata, ia berperan sebagai pengembala sapi. Menjelang akhir hidupnya, ia mengikuti pejalanan suci ke gunung Himalaya bersama kakak-kakaknya. Di sana ia meninggal dalam perjalanan dan arwahnya mencapai surga.

Masa kanak-kanak

Pandawa lima yang terdiri atas Yudistira, Arjuna, Bima, Nakula dan Sadewa, memiliki saudara yang bernama Duryodana dan 99 adiknya yang merupakan anak dari Destarasta yang tak lain adalah paman mereka, sekaligus Raja Astina menggantikan saudaranya Prabu Pandudewanata yang tak lain adalah ayah dari Pandawa lima. Sewaktu kecil para kurawa sudah mendapatkan pikiran berek dari Pamannya Suman / Sengkuni. Suatu hari Duryodana berpikir ia bersama adiknya mustahil untuk dapat meneruskan tahta dinasti Kuru apabila sepupunya masih ada. Mereka semua (Pandawa lima dan sepupu-sepupunya atau yang dikenal juga sebagai Korawa) tinggal bersama dalam suatu kerajaan yang beribukota di Astina. Akhirnya berbagai niat jahat muncul dalam benaknya untuk menyingkirkan para Pandawa beserta ibunya.

Usaha pertama untuk menyingkirkan Pandawa

Dretarastra yang menggantikan tahta kerajaan yang sebelumnya dipimpin oleh Prabu Pandudewanata menyerahkan kembali tahta kerajaan Astina kepada putra sulung Prabu Pandu Arjuna sebagai putra mahkota tetapi ia langsung menyesali perbuatannya yang terlalu terburu-buru sehingga ia tidak memikirkan perasaan anaknya. Hal ini menyebabkan Duryodana iri hati dengan Arjuna, ia mencoba untuk membunuh para Pandawa beserta ibu mereka yang bernama Kunti. Rencana tersebut dipelopori oleh Pamannya Harya Suman / Sengkuni dengan mengajak tukang kayu kerajaan untuk membuat tempat pesta dari bahan yang mudah terbakar. Pada saat pesta, Kunthi dan para Pandawa Lima disuruh minum air yang sudah dimasuki obat tidur, dan dibakarlah lokasi pesta tersebut. Segala sesuatunya yang sudah direncanakan Duryodana dibocorkan oleh Widura yang merupakan paman dari Pandawa. Sebelum itu juga Bima juga telah diingatkan oleh seorang petapa yang datang ke dirinya bahwa akan ada bencana yang menimpannya oleh karena itu Bima pun sudah berwaspada terhadap segala kemungkinan. Untuk pertama kalinya Bima membawa ibunya Kunthi dan keempat saudaranya lolos dalam perangkap Duryodana dan melarikan diri ke hutan rimba.

Para Pandawa mendapatkan Dropadi

Pandawa lima yang melarikan diri ke rimba mengetahui akan diadakan sayembara di Kerajaan Panchala dengan syarat, barang siapa yang dapat membidik sasaran dengan tepat boleh menikahkan putri Raja Panchala (Drupada) yang bernama Panchali atau Dropadi. Arjuna pun mengikuti sayembara itu dan berhasil memenangkannya, tetapi Bima dan Arjuna yang berkata kepada ibunya ketika ibunya tengah memasak, "Ibu, kami membawa sedekah yang terbaik!" Kunti, menjawab tanpa melihat, "Bagilah sama rata kepada saudaramu, Nak." Karena perkataan ibunya. Pancali pun bersuamikan lima orang.

Perselisihan antar keluarga

Pamannya (Dretarastra) yang mengetahui bahwa Pandawa lima ternyata belum mati pun mengundang mereka untuk kembali ke Hastinapura dan memberikan hadiah berupa tanah dari sebagian kerajaannya, yang akhirnya Pandawa lima membangun kota dari sebagian tanah yang diberikan pamannya itu hingga menjadi megah dan makmur yang diberi nama Indraprastha. Duryodana yang pernah datang ke Indraprastha iri melihat bangunan yang begitu indah, megah dan artistik itu. Setelah pulang ke Hastinapura ia langsung memanggil arsitek terkemuka untuk membangun pendapa yang tidak kalah indahnya dari pendapa di Indraprastha. Bersamaan dengan pembangunan pendapa di Hastinapura ia pun merencanakan sesuatu untuk merebut kerajaan milik Yudistira (Indraprastha) dan menjatuhkan Yudistira dan adik adiknya. Yang pada akhirnya Yudistra pun terjebak dalam rencananya Duryodana dan harus menjalani pengasingan selama 12 Tahun dan satu tahun untuk tidak dikenali, di dalam pengasingan itu Pandawa pun menyusun rencana untuk membalas dendam atas penghinaan yang telah dilakukan Duryodana dan adik adiknya, yang akhirnya memicu terjadinya perang besar antara Pandawa dan Korawa serta sekutu-sekutunya.

Pertempuran besar di Kurukshetra

Pertempuran besar di Kurukshetra (atau lebih dikenal dengan istilah Bharatayuddha di Indonesia) merupakan pertempuran sengit yang berlangsung selama delapan belas hari. Pihak Pandawa maupun pihak Korawa sama-sama memiliki ksatria-ksatria besar dan angkatan perang yang kuat. Pasukan kedua belah pihak hampir gugur semuanya, dan kemenangan berada di pihak Pandawa karena mereka berhasil bertahan hidup dari pertempuran sengit tersebut. Semua Korawa gugur di tangan mereka, kecuali Yuyutsu, satu-satunya Korawa yang memihak Pandawa sesaat sebelum pertempuran berlangsung.

Akhir riwayat

Setelah Kresna wafat, Byasa menyarankan para Pandawa agar meninggalkan kehidupan duniawi dan hidup sebagai pertapa. Sebelum meninggalkan kerajaan, Yudistira menyerahkan tahta kepada Parikesit, cucu Arjuna. Para Pandawa beserta Dropadi melakukan perjalanan terakhir mereka di Gunung Himalaya. Sebelum sampai di puncak, satu persatu dari mereka meninggal dalam perjalanan. Hanya Yudistira yang masih bertahan hidup dan didampingi oleh seekor anjing yang setia. Sesampainya di puncak, Yudistira dijemput oleh Dewa Indra yang menaiki kereta kencana. Yudistira menolak untuk mencapai surga jika harus meninggalkan anjingnya. Karena sikap tulus yang ditunjukkan oleh Yudistira, anjing tersebut menampakkan wujud aslinya, yaitu Dewa Dharma. Dewa Dharma berkata bahwa Yudistira telah melewati ujian yang diberikan kepadanya dengan tenang dan ia berhak berada di surga.
Sesampainya di surga, Yudistira terkejut karena ia tidak melihat saudara-saudaranya, sebaliknya ia melihat Duryodana beserta sekutunya di surga. Dewa Indra berkata bahwa saudara-saudara Yudistira berada di neraka. Mendengar hal itu, Yudistira lebih memilih tinggal di neraka bersama saudara-saudaranya daripada tinggal di surga. Pada saat itu, pemandangan tiba-tiba berubah. Dewa Indra pun berkata bahwa hal tersebut merupakan salah satu ujian yang diberikan kepadanya, dan sebenarnya saudara Yudistira telah berada di surga. Yudistira pun mendapatkan surga.



Kebijakan yang saya buat untuk memenangkan globalisasi


Bagaimana cara memenangkan globalisasi?
Di artikel gue sebelumnya udah gue bahas ya tentang globalisasi, apa itu globalisasi nd apa aja efek baiknya. Nd kalo yang baca teliti tulisan gue sebelumnya, gue janji bahas tentang efek negatif dari globalisasi. Efek negatif dari globalisasi itu ngga bisa di bilang banyak, tapi ngga bisa juga dibilang sedikit. Tergantung dari gimana kita nanggepin globalisasi itu sendiri. Nahh salah satu efek negatif dari globalisasi adalah :
Banyak Alay
Kenapa banyak alay gue sebut sebagai efek negatif dari globalisasi? Karna banyaknya alay berbanding lurus sama makin berkembangnya globalisasi yang salah nd jadi efek negatif.  Kenapa bisa gue bilang gitu? Karena menurut gue, globalisasi itu banyak banget manfaatnya loh, tapi malah justru di salah gunain sama para ABG labil di negara Indonesia ini. Contohnya kayak Facebook atau yang lebih akrab di sebut FB, di FB ini kita bisa berteman dengan siapa aja, dimana aja. Ngga menutup kemungkinan dong kita berteman sama bule-bule kece asal amerika atau australia sana? Yang jadi masalah, harusnya kan dari informasi yang kita dapat dari media FB ini bisa  memberi kita motivasi supaya kita bisa semaju mereka dalam bidang teknologi, prestasi atau hal positif lainnya. Nah yang terjadi di indonesia ngga seperti itu, para ABG labil di indonesia malah asik ngikutin fashion negara maju itu tanpa ngeliat kondisi mereka yang ngga pantes nd ngga cocok banget, tapi tetep maksa. Ya ampun sumpah sakit mata liatnya. Ngga perlu gue jelasin disini juga kan kayak apa kelakuan alay remaja indonesia?
Ada efek negatif ada juga dong cara nanganin efek tersebut supaya jadi positif? Salah satu caranya menurut gue ya ada di diri kita sendiri. Dengan cara apa? Ya dengan cara memperluas pengetahuan, punya filter sendiri buat nyaring mana yang harus kita ikutin nd engga boleh kita ikutin dari negara-negara maju di dunia. Bahkan kalo perlu nih, kita beli cermin yang gede buat kita ngaca, bagus ngga sih penampilan kita kalo kita ngikutin mode berpakaian orang luar negeri? Ada lagi nih cara yang menurut gue ampuh juga buat memenangkan globalisasi. CINTAI NEGERI SENDIRI. Bangga sama negara lain boleh, ngikutin juga boleh asal dari segi positifnya, tetep cintai negeri kita sendiri. Dengan luasnya pengetahuan, kita bisa mengembangkan negara indonesia ini jadi negara maju kayak negara-negara barat sana tuh. So, pilihan ada di tangan kita kan? Kita mau ambil positif atau negatif dari globalisasi itu sendiri. Kalo gue pribadi sih lebih milih memenangkan globalisasi, tinggalkan negatifnya dan dapatkan positifnya secara maksimum :D

Nah, karena tulisan ini di buat buat tugas, di tugas ini harusnya sih judulnya “apa kebijakan yang akan anda buat untuk memenangkan globalisasi?” tapi malah jadi melenceng kemana-mana. Efek galau anak muda nih :D
Back to topic!
Kebijakan apa sih yang gue buat buat memenangkan globalisasi? Nah berat nih bahasannya. Berarti gue harus berkhayal jadi presiden negara ini dulu ya?
Kalo gue jadi presiden, gue mau jalan-jalan keliling indonesia. Buat apa? Buat mantau langsung kinerja bawahan-bawahan gue, yang korupsi langsung cemplungin aja ke gunung merapi. Trus caranya gue menangin globalisasi gimana?? Gue bakal buat kebijakan-kebijakan yang bikin segala generasi muda or tua lebih mencintai negeri sendiri, bikin mereka termotivasi belajar lebih banyak dari negara maju dan menerapkannya buat membangun negara tercinta ini. Kedengerannya gampang ya?

perdukunan VS Globalisasi


Perdukunan VS Globalisasi

Globalisasi, kayaknya udah ngga asing lagi kata ini di telinga kita. Apa sih arti dari globalisasi? Menurut gue pribadi, globalisasi itu proses ketika dunia menjadi tanpa batas. Tanpa batas? Iya dong.. kita bisa gitu ke amerika, bahkan ke kutub utara Cuma dengan klik aja di komputer, dengan jaringan internet pastinya. Emang ngga beneran ke tempatnya sih, tapi minimal kita tau lah apa itu amerika or kutub utara, dimana letaknya nd kayak apa sih budaya dan penduduknya.  Kita juga bisa dengan mudah tau informasi terbaru, ngga Cuma dari bidang pendidikan, dari dunia entertaiment, flora, fauna, semuanya bisa kita dapet dengan mudah di internet, cukup ketik aja kata yang mau kita cari di kotak “search” di search engine macem google. Bahkan nih, tugas mahasiswa juga banyak yang copy paste dari internet loh, maraknya blog yang share tentang ilmu pengetahuan dan berbagai informasi lainnya makin mempermudah mahasiswa, pelajar dan kalangan umum buat mempermudah tugas atau pekerjaannya. Tuh gimana ngga asik?
Globalisasi baaaaaanyaaaak banget efek positifnya yang udah kita rasain, tapi bukan berarti ngga ada efek negatifnya kan? Globalisasi juga punya efek negatif, tapi gue ngga mau bahas apa aja efek negatif globalisasi di sini, ya bisa dilihat di artikel gue yang lain :p (promosi dikit ). Internet yang gue bahas tadi bukan Cuma membagikan informasi positif, gue pernah buka blog buat cari referensi tugas, di blog itu ada macem-macem iklan, rame banget deh pokoknya itu blog sampe loadingnya lamaaaaa banget saking gedenya page yg mesti di download modem gue yang kuotanya pas pasan itu. Nah sambil nunggu loading page buat dapetin informasi yang gue butuhin, gue ngga sengaja liat 1 iklan yang bunyinya begini “Cuma sehari bisa bikin lawan jenis tergila-gila! Klik Disini”. Wahh judulnya bikin gue penasaran buat klik linknya, gue klik kanan trus open link in newtab di komputer gue.  Sumpah gue kaget banget liat isi dari web tersebut, lucu juga sih liatnya. Prakter perdukunan juga ikut kena efek globalisasi! Kebayang ngga sih ketika kita mau nyantet orang cukup kirim email ke dukunnya nd soal pembayaran bisa dilakukan transfer? Dulu gue kira seiring berkembangnya jaman. Perdukunan juga ikut lenyap di telan bumi or apalah yang bisa bikin praktek perdukunan itu lenyap dari dunia ini. Tapi ternyata perdukunan juga berkembang ngikutin perkembangan jaman yang semakin canggih. Jangan-jangan nih nanti santet or susuk bisa dikirim lewat bluetooth or malah bisa di kirim lewat BBM or What’s app. Atau mungkin bisa menyebar melalui flash disk? Ya ampun macem trojan aja :D