Aku sengaja bangun lebih pagi dari biasanya. Hari ini adalah hari pengumuman kelulusanku, setelah 3 tahun aku sekolah di SMA, hari ini aku akan menerima hasil dari perjuanganku selama ini. Aku bangkit untuk mandi dan melaksanakan kewajibanku untuk menyembah Tuhanku. Dalam Sholatku aku meminta agar hasil yang akan ku terima hari ini sebanding dengan perjuanganku selama ini. Selesai sholat aku kedapur untuk membuat segelas susu dan setangkup roti bakar dengan selai coklat dan keju slice di tengahnya. Aku membawa sarapan pagiku ke meja teras untuk ku nikmati sambil menunggu pak pos datang. Jam tangan yang melingkar di tangan kiriku menunjukan waktu 06.00. Handphoneku berdering menandakan ada sms yang masuk. Sms dari teman sekelasku, reza namanya.
“Alhamdulillah gue lulus,makasih temen2 buat doanya”
Aku tersenyum membaca sms dari reza, aku mengucap syukur dan membalas sms dari reza, teman sekelasku tersebut. Setelah selesai membalas sms dari reza, aku melanjutkan aktivitasku menikmati sarapan pagi sambil membaca Koran. Aku berusaha berkonsentrasi membaca Koran di tanganku. Tapi entah mengapa pikiranku tetap tak bisa berpusat pada headline. Aku penasaran sekali dengan hasil ujian ku. Terlebih sejak sms reza tadi teman2 satu sekolahku mengirim sms mengabarkan surat mereka telah sampai dan mereka lulus ujian nasional. Beberapa jam menunggu, Aku mulai gellisah menunggu pak pos yang tak kunjung datang sementara waktu sudah menunjukkan jam 11.30. Hampir semua teman2ku sudah mendapatkan suratnya. Aku mulai lelah menunggu, saat aku ingin beranjak mesuk ke kamarku, bundaku menghampiriku. “mau kemana han? Emang pak posnya udah dating?” kata bundaku sambil mengelus kepalaku. “belom bun, hany cape nunggu di sini, temen2 hany udah pada dapet suratnya. Ko punya hany ngga dateng2 yah bun?” kataku sambl merebahkan kepalaku di pelukan bundaku. Aku memang manja, karena aku tidak memiliki adik ataupun kakak. Ya,aku adalah anak tunggal di keluarga kecilku. “sabar dong han. Nanti juga datang ko, mending sekarang hany sholat dzuhur trus makan siang, bunda ngga mau loh magh hany sampe kumat.” Awalnya aku ragu antara tetap menunggu atau manuruti permintaan bunda, tapi aku putuskan untuk menurut apa kata bunda saja. Aku masuk ke kamarku dan mengambil air wudhu untuk mengadu pada Tuhanku. Aku tak menghiraukan sms yang sedari tadi memenuhi inbox handphoneku. Saat aku menyelesaikan sholatku, bundaku menghampiriku dan menyerahkan selembar amplop berwarna putih kepadaku. Aku menatap bunda heran tanpa menyentuh amplop tersebut. “ambil han, dari tadi kamu nunggu ini kan?” kata bundaku sambil tersenyum lembut ke arahku. Aku memperhatikan amplop putih yang di pegang bundaku. Terdapat kop di bagian atas amplop tersebut. Aku mengambil amplop tersebut dan membaca tulisan di atasnya. Tanganku seketika dingin saat aku mengetahui amplop tersebut adalah amplop kelulusanku yang di atasnya tertulis namaku. Jantungku berdegup kencang, tanganku dingin dan berkeringat. Aku gugup saat membuka lem perekat amplop kelulusanku. Tiba2 bunda mencegahku dan berkata “baca bismillah dulu han.” Aku hanya mengangguk menanggapi ucapan bunda. Aku menarik nafas dan membaca “Bismillah” pelan2 aku membuka amplop kelulusanku. Aku membacanya dengan hati2, aku tak ingin ada satu katapun yang terlewatkan. Terdapat tulisan dengan font besar type Times New Roman dicetak tebal berwarna hitam. Aku membaca lagi kata tersebut untuk meyakinkan diri.
LULUS
Aku langsung bersyujud mengucap syukur pada Tuhanku. Memeluk dan mencium pipi bundaku. Aku sungguh terharu mengetahui perjuanganku selama ini tidak sia2. Bundaku tertawa kecil melihatku, aku heran dan bertanya “ko ketawa sih bun? Kenapa emangnya?” kataku sambil melipat mukena yang kugunakan. “lucu aja liat kamu galau dari tadi pagi, surat kamu udah sampe tadi jam setengah 6 pagi, pas kamu lagi mandi. Kamu asyik banget sih mandinya, sampe ngga denger pas bunda bilang surat kamu ada di meja tv.” Aku bengong mendengar perkataan bundaku, ternyata suratku sudah sampai sejak tadi pagi, aku merasa bodoh sekali menunggu di teras rumahku sementara surat yang ku tunggu2 sudah ada dirumahku sejak tadi pagi. Astaga (-___-“)
Aku terbangun mendengar suara hujan. Sudah pagi ternyata, hari ini adalah hari pertama aku memasuki dunia perkuliahan. Yaa,aku bukan lagi murid SMA yang menuntut ilmu dengan seragam putih abu-abu. Aku seorang mahasiswi ekonomi manajemen di sebuah universitas yang cukup ternama. Memang sangat berbeda dengan jurusanku waktu masih duduk di bangku sekolah. Aku dulu mempelajari ilmu eksak dan sekarang aku beralih ke sosial. Universitas tempatku kuliah juga pilihan terakhir yang dapat kupilih. Sama sekali bertolak belakang dengan impian dan cita-citaku selama ini. Beruntung aku memiliki seorang yang selalu mampu mengisi penuh semangatku. Dia kekasihku, Pratama. Pratama juga seorang mahasiswa di universitas yang sama denganku. Hanya saja aku dan Pratama berbeda jurusan. Aku ekonomi manajemen sedangkan Tama –panggilan akrab Pratama- teknik mesin.
Aku bangkit dari tempat tidurku yang nyaman untuk bersiap menuju kampus. aku mengenakan pakaian sederhana, aku tak ingin terlihat mencolok. Setelah sarapan dan berpamitan dengan orang tuaku aku berangkat menuju kampus. sepanjang perjalanan aku tak banyak berpikir bagaimana kehidupanku nanti di universitas, aku lebih memilih mendengarkan music dari handphone kesayanganku. Sesampainya aku di kampus, aku langsung mencari kelas ku, aku menarik kertas bertuliskan jadwal kuliahku, “hemm, ruang J1315.” Aku menaiki tangga untuk naik ke lantai 3 ruang 15 untuk mata kuliah pengantar akuntansi. Aku belum pernah mempelajari akuntansi atau pembukuan sebelumnya. Jadi ini merupakan suatu hal yang baru buatku. Mp3 di handphoneku berhenti sejenak, aku melihat handphoneku untuk memastikan. Ada sms rupanya, aku tersenyum mengetahui sms tersebut dari Tama.
“semangat yah sayang, aku yakin kamu bisa.”
Aku seperti mendapat suntikan energy dari kekasihku itu. dengan penuh semangat aku melangkah menuju ruang 15 di lantai 3. Saat aku memasuki kelas itu aku langsung mencari bangku kosong untuk ki tempati. Atmosfirnya sungguh berbeda dengan suasana sekolahku dulu. Tidak ada meja, tidak ada seragam sekolah,tidak ada guru piket yang memastikan kelas sudah di sapu dan sampah sudah dibuang. Tidak ada larangan membawa notebook seperti di sekolahku dulu dengan alasan menghindari kecemburuan sosial. Semuanya terasa berbeda, termasuk teman-teman baruku yang sepertinya acuh tak acuh. Aku tak ambil pusing karena aku memiliki Tama, dan karena sistem moving class, aku tak perlu khawatir untuk berlama-lama bersama mereka jika aku tak bisa menyesuaikan diri. Baru 5 manit aku duduk, tiba-tiba ada seorang perempuan yang tubuhnya dua kali lipat tubuhku duduk di sebelahku. Dia mengajakku berkenalan. “hai, nama lo siapa?” sapanya sambil mengulurkan tangan, dia adalah orang pertama yang mengajakku bicara hari ini. “gue Dyah,lo?” jawabku sambil menyambut jabatan tangannya dan tersenyum. “waahh nama kita sama, nama panjang lo siapa?” jawab gadis itu dengan mata berbinar. Aku sedikit terkejut mendengar bahwa namaku dan gadis di sebelahku ini sama. “gue Dyah Retno Aryani, kalo lo Dyah apa?” aku balik bertanya untuk memenuhi rasa penasaranku. “gue Dyah Wulan Septiani, panggil ulan aja biar ngga ketuker,hehe” aku mengangguk mengiyakan. Dari senyumnya aku bisa mengetahui bahwa orang ini ramah, sangat ramah bahkan. Lalu satu persatu mulai datang mengisi bangku yang kosong. Akut ak menyangka mampu beradaptasi dengan cepat, dalam waktu kurang dari setengah jam aku sudah mendapat beberapa teman baru. Waktu sudah menunjukkan waktu kuliah di mulai, mendadak pintu yang tertutup terbuka. Seorang wanita muda berjalan masuk dan meletakkan map di atas meja dosen di depan kelas. Aku bisa menyimpulkan bahwa itu adalah dosen akuntansiku untuk semester ini. Dan kehidupan perkuliahanku pun di mulai. “Bismillah, semoga ini menjadi awal yang baik. Ibu, ayah.. aku pasti akan membuat kalian bangga dengan prestasiku di universitas ini.”
Hampir di setiap jaman sastra mempunyai peranan penting. Alasan pertama karena sastra menggunakan bahasa. Selain itu bahasa mempunyai kemampuan menjabarkan semua kegiatan manusia. Dalam usahanya memahami diri sendiri dan kemudian melahirkan filsafat, manusia menggunakan bahasa. Dalam usahanya memahami alam semesta, manusia menggunakan bahasa. Dalam usahanya mengatur hubungan antar sesame dan melahirkan ilmu0ilmu sosial juga manusia menggunakan bahasa. Jadi demikian bahwa bahasa adalah kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Kenyataan inilah yang mempermudah sastra untuk komunikasi, karena sastra pada hakekatnya karya sastra adalah penjabaran abstraksi seperti prosa dan puisi.
Sementara itu filsafat juga menggunakan bahasa adalah abstraksi. Cinta kasih, kebahagiaan, kebebasan dan lainnya yang digarap oleh filsafat adalah abstrak. Sifat abstrak inilah yang ,menyebabkan filsafat sulit untuk berkomunikasi.
Sastra juga di dukung oleh cerita, karena dengan cerita orang jadi lebih mudah tertarik. Orang juga lebih mudah mengemukakan gagasannya dalam bentuk yang tidak normatif. Cabang seni yang lain juga dapat menarik tanpa cerita, akan tetapi sulit bagi penciptanya untuk mengemukakan gagasannya. Dalam music misalnya, kata-kata penciptanya tertelan oleh melodinya.
Ilmu budaya dasar adalah salah satu upaya mengembangkan kepribadian mahasiswa dengan cara mengembangkan cara berpikir, kemampuan kritikalnya terhadap nilai-nilai budaya. Dalam ilmu budaya dasar, sastra tidak di ajarkan sebagai suatu disiplin ilmu. Sastra disini digunakan untuk alat untuk membahas masalah-masalah kemanusiaan yang dapat membantu mahasiswa untuk lebih menjadi humanus. Demikian juga filsafat,music,seni rupa dan sebagainya.
Manusia dan kebudayaan adalah dua hal yang tidak dapat terpisahkan. Menurut ilmu kimia, manusia dipandang sebagai partikel – partikel atom yang membentuk jaringan – jaringan sistem. Menurut ilmu Fisika,Manusia merupakan kumpulan dari berbagai sistem fisik yang saling terkait satu sama lain dan merupakan kumpulan dari energy. Menurut ilmu Biologi Manusia adalah makhluk biologis yang termasuk dalam golongan mamalia.
Manusia terdiri dari empat unsur terkait :
1.Jasad : badan kasar manusia yang nampak pada luarnya. Dapat dilihat,dapat diraba.
2.Hayat : mengandung unsur hidup.
3.Ruh : Daya yang bekerja secara spiritual untuk memahami kebenaran dan keadilan.
4.Nafs : Kesadaran terhadap diri sendiri.
Manusia sebagai satu kepribadian mengandung tiga unsur :
A.Id, merupakan suatu stuktur kepribadian yang paling primitif dan tidak nampak. Id merupakan libido murni atau energy psikis yang menunjukkan cirri alami yang irrasional dan terkait dengan sex, secara instingual menentukan proses – proses ketidaksadaran (unconscious). Id tidak berhubungan dengan lingkungan luar diri. Tetapi terkait dengan sturkturr lain kepribadian yang pada gilirannya menjadi mediator anatara insting dan dunia luar. Terkungkung dari realitas dan pengaruh sosial , id di atur oleh prinsip kesenangan, mencari kepuasan instingual libidinal yang harus di penuhi baik secara langsung maupun pengalaman sexual. Atau tidak langsung melalui mimpi dan khayalan. Proses pemenuhan kebutuhan yang di sebutkan terakhir yang dilakukan secara tidak langsung di sebut sebagai proses primer. Objek yang nyata dari dari pemuasan kebutuhan langsung dalam prinsip kesenangan di tentukan oleh tahap psikoseksual dari perkembangan individual.
B.Ego, merupakan bagian dari struktur yang pertama kali di bedakan dari Id, seringkali di sebut sebagai kepribadian “eksekutif” karena perannya dalam menghubngkan energy Id kedalam energy sosial agar dapat di mengerti oleh orang lain.
C.Superego, merupakan struktur kepribadian yang paling akhir, muncul ketika kira-kira usia lima tahun. Superego terbentuk dari lingkungan eksternal. Jadi superego adalah kesatuan standar moral dari lingkungan sekitar. Baik aspek positif maupun aspek negative.
Kebudayaan
Kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian,hukum, moral, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain serta kebiasaan-kebiasaan yang di dapatkan manusia sebagai anggota masyarakat.
Kebudayaan terdiri atas berbagai pola, tingkah laku mantap, pikiran, perasaan dan reaksi yang di peroleh dan terutama di turunkan oleh symbol-simbol yang menyusun pencapaiannya secara tersendiri dari kelompok-kelompok manusia, termasuk di dalamnya perwujudan bendabenda materi. Pusat esensi kebudayaan terdiri atas tradisi, cita-cita atau paham.
Unsur-unsur kebudayaan:
1.Sistem religi (kepercayaan)
2.Sistem organisasi kemasyarakatan
3.Sistem pengetahuan
4.Sistem mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi
5.Sistem teknologi dan peralatan
6.Bahasa
7.Kesenian
Kaitan manusia dan Kebudayaan
Manusia dan kebudayaan dinilai sebagai dwi tunggal. Maksudnya walaupun keduanya berbeda tetapi tetap pada satu kesatuan. Manusia menciptakan kebudayaan, dan setelah kebudayaan itu terbentuk maka kebudayaan mengatur kehidupan manusia agar sesuai dengannya. Contoh sederhana adalah manusia dan peraturan, manusia yang membuat peraturan tetapi pada akhirnya manusialah yang harus mematuhi peraturan tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa manusia tidak dapat dipisahkan dengan kebudayaan. Karena kebudayaan merupakan perwujudan dari manusia itu sendiri.
Manusia dan kebudayaan atau manusia dengan masyarakat tidak dapat di pisahkan. Karena memiliki hubungan yang sangat erat. Pada saat ini tidak dapat di bedakan mana yang lebih dulu muncul, manusia atau kebudayaan. Analisa terhadap keduanya harus menyertakan pembatasan masalah dan waktu agar penganalisaan dapat di lakukan secara cermat.
Gerimis membasahi lapangan basket yang sedari tadi aku pandangi. Ku urungkan niatku untuk segera pulang, aku sangat membenci hujan. Aku benci saat air hujan membasahi tubuhku. Itu sebabnya aku lebih memilih untuk berdiam diri di sebuah gubuk kecil agar aku tak kehujanan. Sebenarnya dulu aku sempat sangat menyukai hujan. Semuanya berubah saat dokter memvonis aku menderita gagal ginjal dan aku harus menjalani pengobatan panjang yang menurutku sangat menyakitkan. Aku menjalani pengobatan pertamaku saat hujan yang sangat ku sukai turun, aku menjalani pengobatan sambil mendengar suara hujan yang sangat ku sukai. Sejak saat itu akumulai membenci hujan, tiap hujan turun pasti aku sedang menjalani pengobatan yang sangat menyakitkan. Belum lagi aku pernah memergoki kekasihku selingkuh yang lagi2 saat hujan turun. Itu sebabnyaku membenci hujan, karena hujan selalu mengingatkanku pada rasa sakit.
Aku memperhatikan sekelilingku, hanya ada aku di taman komplek perumahan tempatku tinggal. Aku selalu pergi ke sini tiap kali aku merasa lelah melawan penyakitku. Biasanya aku hanya sendiri di sini, tapi tidak kali ini, aku melihat ada sesosok laki2 di bawah pohon dekat tempatku berteduh. Aku perhatikan sosok itu, aku seperti pernah melihatnya di suatu tempat, entah dimana. Sosok itu tiba2 menoleh ke arahku sehingga aku bisa dengan jelas melihat wajahnya, dia Adrian, teman sekelasku di kampus. Sepertinya Adrian menyadari keberadaanku, Adrian mendekatiku dan duduk di sebelahku. Aku tidak terlalu memperdulikan Adrian,aku tetap pada aktivitasku memandangi lapangan basket di hadapanku. Dulu aku sangat suka bermain basket, hingga aku tak bisa lagi bermain basket karena kondisiku yang semakin menurun. Dokter memperkirakan aku hanya mampu bertahan 3 bulan bila aku tidak segera menemukan donor ginjal yang tepat untukku. Aku sudah lelah berharap menemukan donor ginjal yang cocok untukku, sudah hampir setahun aku menunggu donor yang cocok untukku tapi sampai saat ini masih belum ada donor yang benar2 cocok untukku.
Aku merasa Adrian sedang memperhatikanku, “ngapain lo ngliatin gue?” kataku ketus pada Adrian yang sedang melihatku, entah apa yang dilihatnya. “ternyata lo cantik juga” jawab Adrian tanpa mengalihkan pandangannya. Aku membuang muka dan lebih memilih tidak memperdulikan lelaki di sebelahku ini. Aku tidak mau termakan rayuan gombal lelaki manapun. “ko lo cemberut mulu sih? Senyum deh, pasti tambah cantik.” Seketika aku menoleh kea rah lelaki di sebelahku, aku diam tak menjawab, hanya menatapnya tajam. “kalo lagi marah manis juga.” Kata2 Adrian membuatku tak percaya, aku hanya memaki dalam hati dan memutuskan untuk berlari saja kerumahku, meskipun aku tau apa akibatnya kalau aku memaksakan diri berlari di tengah hujan deras seperti ini. “Melly, woy Melly, gue minta nomer hape lo dong, jangan kabur dulu ngapa” sayup2 aku mendengar Adrian meneriakiku, tapi aku tak menghiraukannya dan terus berlari.
10 menit aku berlari, begitu masuk kerumah aku langsung naik menuju kamarku tanpa menghiraukan bunda dan ayahku yang memanggilku di ruang tamu tadi. Aku segera masuk ke kamarku, naik ke tempat tidurku dan menarik selimut agar aku tak menggigil kedinginan. Bundaku tiba2 masuk ke kamarku, mengelus kepalaku dan berkata “ko hujan2nan Mel? Kenapa ngga telepon kerumah? Kan bunda bisa jemput kamu di taman komplek.” Aku hanya diam tak menjawab, aku naya minta di ambilkan air putih hangat agar badanku tak kedinginan. Saat bundaku keluar untuk mengambil air putih aku berjalan menuju kamar mandi untuk mandi dan mengganti pakaianku yang basah. Setelahnya aku naik ke tempat tidur dan berbaring, bundaku datang membawakanku segelas air putih hangat,setelah meminumnya bundaku mengelus kepalaku yang kini ada di pangkuannya. “Mel,nanti malem jadi kan kamu mau cuci darah?” seketika aku mual mendengar ucapan bundaku. “hemm, ngga bisa minggu depan aja ya bun? Aku ada quiz besok, udah kebanyakan bolos kuliah gara2 berobat.” Aku berusaha membujuk bundaku agar mau mengundur jadwal cuci darahku. “Tapi kan Mel,” “Bun, aku kuat ko. Aku Cuma perlu istirahat malem ini.” Aku memotong ucapan bundaku dengan cepat. Kulihat bundaku menhela nafas panjang, aku tau bundaku lelah membujukku, dan aku yakin bundaku tak akan memaksaku berobat karena itu akan sia2 saja. Aku sudah bertekad menyerahkan semuanya pada Tuhan, biar Tuhan yang menentukan jalan hidupku. Aku hanya ingin menikmati sisa hidupku sebagai mahasiswi biasa dengan teman2ku. Bundaku akhirnya memilih untuk meninggalkan aku di kamarku, aku tau bundaku pasti ingin menangis di kamarnya, yah sejak bunda mengetahui penyakitku, bunda memang sering menangis. Aku tak pernah tega melihat bundaku menangis, makanya aku lebih banyak menghabiskan waktu di kamar. Setelah ku pastikan bunda sudah masuk ke kamarnya, aku memutuskan untuk segera tidur untuk mempersiapkan kondisi tubuhku untuk kuliah besok pagi. Sebelum tidur aku selalu berdoa, dan doaku selalu sama setiap harinya.
“Tuhan, Ijinkan aku melihat hari esok, jangan Kau panggil aku sebelum aku bisa membahagiakan ayah dan bundaku.”
Aku terbangun mendengar adzan subuh, aku membuka mataku dan bersyukur pada Tuhanku.
“Tuhan, terimakasih Kau masih mengijinkanku mendengar adzan subuh, semoga hari ini aku bisa membuat orang2 di sekitarku tersenyum”
Aku bangkit untuk mengambil air wudhu dan memanggil ayah dan bundaku untuk sholat subuh berjamaah. Selesai sholat aku ke dapur untuk membantu bundaku menyiapkan sarapan. Seperti biasa setelah sarapan aku akan bersiap2 pergi kuliah.
Aku suka pergi kuliah, karena tak ada seorangpun yang tahu tentang penyakitku, jadi aku bebas melakukan apapun yang ku mau tanpa harus takut ada yang mengkhawatirkan atau mengasihani keadaanku. “Mel, udah ngerjain tugas akuntansi kan? Gue liat dong.” Rimbi, sahabatku sejak masuk universitas mengagetkanku. “ udah ko mbi, ada di binder gue, lo tau tempatnya kan?” jawabku santai sambil mengutak atik hapeku. “ tau ko, makasih yaa Melly sayang.” Rimbi mencium pipiku, aku hanya tersenyum sambil mengelus2 pipiku. Awalnya aku sedikit kaget dengan kebiasaan teman dekatku ini. Tapi lama2 aku terbiasa, memang itulah Rimbi, selalu ceria.
Adrian datang dengan tampang kusut, dia langsung duduk di sebelahku dan mengambil sebelah hedsetku sambil berkata “lagi dengerin apa mel?” aku tak bergerak dari tempat dudukku dan menjawab singkat pertanyaan Adrian, “Secondhand”. Adrian menguap dan menyandarkan kepalanya di pundakku yang membuatku kaget, “apa apaan sih dri?” kataku sambil menyingkirkan kepala Adrian dari pundakku. Adrian hanya tersenyum penuh arti ke arahku lalu menunduk. Tiba2 Adrian mengangkat kepalanya dan menarik tanganku keluar kelas. “ mau kemana dri?” tanyaku tanpa mencoba melepaskan tangan Adrian, aku tau sia2 saja mencoba karena tenagaku tak akan cukup melepaskan genggaman tangannya. Andrian hanya diam dan menyuruhku masuk kedalam mobilnya. Lagi2 aku hanya diam tak melawan karena aku tau semuanya akan sia2. Aku memperhatikan jelan, aku seperti mengenal jalan ini, ini jalan menuju taman komplek perumahanku, tempat dimana ada lapangan basket favoritku. “mau ngapain kesini dri?” tanyaku pada Adrian satelah sampai di lapangan basket. “gue suka sama lo Mel, gua sayang sama lo, emang lo ngga nyadar apa gue tinggal di seberang rumah lo? Lo ngga nyadar gue sering merhatiin lo?” aku terkejut mendengar pengakuan Adrian. Aku hanya bisa diam tidak menjawab, bukannya aku tidak tau, aku tau tapi aku lebih memilih diam. Aku tak mau Adrian mengetahui tentang keadaanku saat ini. “ maaf gue tiba2 bilang gini ke lo, abis lo pendiem banget sih, lo kaya ngga anggep gue ada, kemaren aja pas ujan lo tiba2 lari gitu aja.padahal kan gue mau ngobrol sama lo Mel.” Aku hanya diam mendengar Adrian, gerimis mulai turun membasahi lapangan basket tempatku dan Adrian berdiri. Aku meminta Adrian agar segera mengantarku ke kampus, aku tak mau kehujanan, aku benci hujan. “ dri, maaf bukannya gue sombong atau mau nghindarin lo,tapi gue Cuma mau bertemen aja ngga lebih. Anter gue ke kampus dri,gue mohon.” Ucapku penuh harap pada Adrian. Aku tau aku pasti sudah menyakiti hatinya. Kulihat Adrian menatapku dan tersenyum “ gpp ko mel, gue seneng walau Cuma jadi temen, gue harap gue bisa jadi temen terdekat lo” aku balas tersenyum pada Adrian dan tiba2 kepala dan ginjalku terasa sangat sakit. Terasa hidungku mengeluarkan cairan yang aku sangat yakin sekali itu darah. Dunia serasa berputar dan aku tak ingat apa2 lagi.
Aku terbangun mendengar suara bundaku mengaji, aku membuka mata dan memperhatikan sekelilingku, rumah sakit ternyata. Ayahku sedang tertidur di sofa, dan di sebelahku ada sesosok laki2. Aku memperhatikan laki2 itu, dia Adrian dan sedang tertidur. Kepalaku masih sangat sakit, seluruh badanku terasa kaku. Aku berusaha mengingat apa yang terjadi, aku pingsan di lapangan basket saat hujan turun. Betapa aku makin membenci hujan. Adrian bergerak, kulihat wajahnya sangat lelah dan matanya sembab. Apa Adrian sudah tau tentang keadaanku? Aku bertanya2 dalam hati. “tante, Melly udah sadar.” Adrian setengah berteriak membuat bunda dan ayahku terkejut. Ayah dan bundaku langsung menghampiriku untuk memastikan keadaanku. Kulihat bundaku menangis. Dalam hati aku berdoa pada Tuhanku.
“Tuhan, mengapa Kau biarkan aku membuat orang2 di sekitarku bersedih? Aku hanya ingin melihat mereka tersenyum Tuhan.”
“Kamu udah 3 hari koma Mel, bunda takut kehilangan kamu.” Kata2 bundaku membuatku terkejut, aku sudah 3 hari koma? Lama sekali. “Adrian selalu disini nunggu kamu, kamu mau yaa berobat lagi, demi bunda Mel.” Kata2 bundaku membuatku terharu, aku sudah mnyusahkan bunda dan ayahku. “maafin melly bun, Melly janji ngga bikin bunda khawatir lagi, makasih yaa dri udah jagain gue.” Kataku lirih, aku mencoba menggerakkan tanganku untuk mengeggem tangan bundaku. “Bun, melly mau jalan2 ke taman sama Adrian, boleh yah?” pintaku pada bundaku. Bundaku mengiyakan permintaanku, aku lalu duduk di kursi roda yang di dorong oleh Adrian. Kulihat langit mendung, pasti sebentar lagi hujan. “dulu aku suka banget sama hujan, tapi sejak aku tau aku sakit, aku benci hujan, hujan mengingatkanku akan rasa sakit.” Aku mulai berbicara pada Adrian, Adrian mendengarkanku sambil mengelus pundakku. “ tapi setelah kamu bilang kamu sayang aku, aku kayanya mulai suka hujan deh, makasih yah dri udah sayang sama aku.” Aku mengenggam tangan Adrian di pundakku, kulihat Adrian tersenyum manis sekali.” Nanti kamu liat buku catatanku ya dri, itu buat kamu.” Kataku lagi, kurasakan kakiku dingin dan perlahan aku tak dapat merasakan kakiku, dinginnya mulai naik ke seluruh badanku. Adrian sepertinya menyadari aku memucat dan menggigil kedinginan. “ kita masuk aja yah Mel,kamu harus istirahat.” Kata Adrian sambil mendorong kursi rodaku. Aku segera mencegahnya “jangan dri, aku mau lihat hujan sama kamu.” Pintaku dengan wajah memelas. Kulihat Adrian bimbang, aku tak memperdulikannya. “hujan itu kaya kamu dri, sejuk dan membawa kahidupan, khususnya buat aku.” Kurasakan gerimis mulai turun. “kita masuk yah Mel, gerimis nih, aku ngga mau kamu kenapa2.” Adrian membujukku, aku menggeleng, “ bentar lagi dri, aku mohon.” Adrian terlihat sangat khawatir dengan keadaanku, tapi aku ingin menikmati hujan ini bersama Adrian, orang yang sejak lama ku cintai. Kurasakan tanganku mulai mati rasa, mataku terasa berat sekali, aku ingin istirahat, aku sudah sangat lelah. Akhrinya aku putuskan untuk menutup mataku di tengah hujan dan di samping Adrian.
Tetangga baru itu siapa yaa? Ganteng banget deh, dia suka main basket juga di taman komplek, jadi makin seneg ke taman komplek ngliatin dia maen basket.
February 2010,
Ternyata namanya Adrian, dia masuk kelas yang sama denganku di semester ini, semoga bisa deket sama Adrian J
Maret 2010,
Diary, dokter bilang aku gagal ginjal aku udah ngga bisa maen basket lagi, aku ngga bisa hujan2n lagi, diary aku ngga tega liat bundaku sedih, belakangan ini Adrian mulai mau merhatiin aku, tapi kayanya aku mundur aja deh. Aku tau aku ngga akan bisa bahagiain Adrian L. Kuatkan aku Tuhan…
Desember 2010,
Akhir tahun ini aku harus cuci darah lagi L, aku cape kaya gini. Kata dokter aku Cuma bisa bertahan 3 bulan diary, aku sekarang Cuma bisa liatin Adrian maen basket secara diam2, ngga bisa kaya dulu lagi L aku harus gimana?
January 2011,
Adrian tadi ngeliatin aku di lapangan basket, sumpah aku malu banget, makanya aku lari pulang kerumah L. Maaf yaa dri, aku ngga maksud ngjauhin kamu.
Adrian menutup buku catatan Melly, gadis yang sangat di cintainya, Adrian tak menyangka Melly sudah lama mencintainya, hari ini tepat 1 tahun sejak kematian Melly. Adrian masih belum bisa melupakan Melly dan senyumannya. Hari itu hujan, hujan yang sangat di sukai Melly. Adrian melangkah meninggalkan makam Melly untuk pergi ke lapangan basket di taman komplek. Adrian membiarkan tubuhnya basah terkena air hujan.
“Tuhan, jaga kekasihku Melly di sana, katakana padanya aku akan selalu mencintainya, akku selalu mengingatnya, terimakasih Tuhan telah pertemukan aku dengan Melly, Putri Hujanku.”
Disini aku masih menunggu, bulang Mei minggu ke 3, tepatnya ketika dia pergi meninggalkan bumi kota kelahirannya. Jam ku sudah menunjukan pukul 11.00, ohh tidak sebentar lagi ketika aku tak bergegas pergi, aku akan terlambat dan itu artinya bisa saja aku harus menunggu tepatnya bulan Mei yang akan datang.
Turun dari taxi yang ku naiki bersama abang supir yang ramah, aku segera berlari menuju Bandara, aku tugggu dia, laki-laki berbaju coklat yang tinngginya kira-kira 170 meter, itu saja yang ku ingat dan masih terbayang jelas ketika ia pergi dan menuliskan sebuah surat yang berisikan dia akan datang mengenakan baju coklat. Namun bukan hanya laki-laki berbaju coklat yang keluar dari Bandara saja yang ku amati, semua laki-laki ku perhatikan satu persatu, namun dari semua laki-laki bukan dia, bukan dia dan bukan DIA.
“pak, apa semua penumpang dari Singapore sudah cek out ?” Tanya ku pada seorang petugas Bandara
“ya non, semuanya sudah cek out, nona masih menunggu pria berbaju coklat itu ?” jawabnya dengan ramah
“iya pak, ya sudah kalau begitu terimakasih.”
“iya sama-sama nona cantik” kasihan sekali nona itu, sudah 3 kali bulan mei ia mencari seorang laki-laki berbaju coklat . gumam petugas bandara itu dalam hatinya.
Ya tepatnya 3 kali bulan Mei Neila menunggu, bolak-balik ke Bandara ketika sudah waktunya minggu ke 3, menunngu Yoga yang pergi meninggalkannya untuk meraih masa depan, dia melanjutkan pendidikannya di Singapore. Ketika pergi dia menitipkan sebuah surat yang berisikan ia akan datang kembali.
Ketika Yoga tidak datang pada akhir minggu ke 3, perasaan kecewa memang ada, ingin rasanya aku marah, kesal, seperti aku dipermainkan. Tulisan surat yang menjajikan ia akan datang apa hanya sebuah tulusin tak berarti, apa dia tulis tidak berdasarkan makna cinta. Tapi dengan ketulusan hati keputusanku akan menunngu Yoga sampai ia datang menyapaku kembali dengan senyumannya yang membuat kesempurnaan. Karena aku sangat mencintainya, dia adalah bagian dalam hidupku, walaupun kini ia jauh entah dimana tapi aku yakin dia akan datang.
Walaupun Yoga memang tidak pernah menyatakan cinta pada Neila, tapi kedekatan mereka sudah melebihi seorang teman atau sahabat, bahkan Neila merasa Yoga adalah ciptaan Tuhan untuk pendamping hidupnya. Sejak memutuskan melanjutkan pendidikan ke Singapore, awalnya Yoga masih sering mengabari Neila namun 1 tahun terakhir, dia tidak pernah mengabari Neila lagi.
Aku pergi ke tempat dimana bisa menenangkan hatiku, sebuah danau yang cantik tempat dimana aku sering bersama Yoga dulu, ketika aku rindupun aku selalu ada disana, tapi kini perasaan kecewaku entah kenapa begitu mendalam, aku telfon saja Kevin dia adalah sahabatku sekaligus juga sahabat Yoga.
“halo Kevin, bisakah kau menemaniku, aku benar-benar butuh seseorang ?”
“okeh cantik pasti kau sedang ada disana danau cantik kenanganmu bersama Yoga, aku akan segera kesana”
Kevin memang selalu baik padaku, selalu ada waktu pula buatku, sampai dia hafal betul tempat dimana jika aku sedang galau. Ditempat ini kursi yang sudang berwarna coklat tua, agak rapuh aku duduk memangdang kenangan seakan itu adalah nyata, ku pejamkan mata sejenak. Seperti ada sosok Yoga yang menemaniku duduk disampingku, memanjakanku, semuanya masih terasa begitu hangat, mengenang sebuah kenangan yang sangat dikenang.
Oh terasa ada tangan lembut yang menutupi mataku,
“hei ini siapa ?”
“coba tebak ?”
“YOGA !!”
tangan itu langsung terlepas dari mataku, tiba-tiba orang itu menampakan dirinya .
“Ah Kevin ku kira kamu Yoga ?”jawabku dengan rasa kesal, karena yang datang itu bukan Yoga.
“Ya ga mungkinlah, Yoga kan sudah bahagia di….” Tiba-tiba mulut Kevin berhenti berbicara.
“Bahagia dimana Kevin ? Ayo lanjutkan perkataanmu tadi ! apa maksudmu berkata begitu ?” Deretan pertanyaaan terlontar dari mulutku.
Kevin hanya terdiam.
“Jawab Kevin, jawab, jawab !!” Aku terus mengoceh sambil mengrengek meminta Kevin agar menjelaskan perkataan itu.
“Maksud aku, lupakan sajalah Yoga barangkali dia sudah bahagia disana, dia sendiri juga tak pernah mengabarimu lagi bukan ?”
“Apa maksudmu Kevin, dia janji akan datang padaku, dia tak mungkin berkhianat, dia cowok dewasa yang ga bodoh, pasti semua perkataannya bisa dia pertanggungjawabkan.”
“Neila liatlah disini banyak orang yang menyayangimu, buat apa kau menunggu seseorang yang tak pasti ?“ Bentak Kevin tiba-tiba
Bentakan Kevin membuatku sangat emosi, kenapa dia bisa seperti itu, rasanya dia sangat tidak suka aku menunggu Yoga, aku tau Kevin memang suka padaku, tapi sebelumnya dia tak pernah seperti ini.
Dari tasnya Kevin menyodorkan salah satu benda seperti kertas berbentuk kotak cantik, berwarna coklat dibalut dengan pita pink, layaknya seperti undangan pernikahan saja . sangat cantik, warna coklatnya begitu manis, tambah mengingatkanku pada Yoga, tapi hatiku seperti menolak untuk melihat benda cantik itu.
“Apa itu Kevin ?” tanyaku penasaran
namun Kevin tidak berkata apa-apa hanya menyodorkannya saja kepadaku, lalu ku ambil.
tertuliskan sebuah nama di depan benda cantik itu, tak asing lagi bagiku . Tepatnya di dekat pita berwarna pink.
The wedding
Yoga Hilman Aldiano
And
Rachel Rafa Amandla
Melihat benda cantik yang tadi membuatku benar-benar terpesona, kini langsung berubah menjadi kemuakan, aku seperti sedang bermimpi, karena aku tidak mampu dihadapkan dengan kenyataan yang begitu membuat dadaku sesak .
“Apa maksud semua ini Kevin, kamu ingin mempermainkanku, Yoga tak mungkin melakukan ini semua, dia janji akan datang padaku !” Protesku kepada raka sambil menahan tangisku yang akhirnya pecah.
“Yoga mengirimkan undangan ini dari 5 bulan yang lalu, waktu itu aku ingin memberikannya padamu, tapi aku dilarang oleh ibumu, kata ibu cari waktu yang tepat untuk memberitaumu karena pada saat itu kamu sedang Ujian Semester, ibu tidak ingin konsentrasi belajarmu hilang gara-gara ini semua, kamu pasti akan shok.” Jawab Kevin menjelaskan semuanya dengan lancar seperti sudah ia hafalkan sebelumnya.
“Terus kata kamu ini waktu yang tepat, setelah dia menikah, dan aku merasakan sakitku menunggu, dan kini yang aku tunggu, telah melupakanku, kini dia bahagia dengan orang lain, kau kira dengan kau mengatakan sekarang membuatku tidak shok, membuatku terus berkonsentrasi.” aku hanya menangis dan mengoceh.
Kevin terdiam dan aku hanya menangis. Dengan beberapa waktu yang lama kemudian Kevin memeluk pundakku, membawa kepalaku bersandar dibahunya walaupun aku terus merintih dan menangis.
Tiba-tiba Kevin mengeluarkan suara.
“Kau harus liat Neila, dia bukanlah seorang yang dewasa yang kau kira baik, jika dia baik dia takan membuatmu menangis karnanya, dia tak akan membuatmu menunggu tanpa kepastian. Dia hanya mempermainkanmu, bukan aku bermaksud menjelaskan keburukannya, namun kau harus liat siapa orang yang menyayangimu dengan tulus, menunggumu walaupun tanpa kepastian, namun dia hanya akan berfikir kesetiaannya adalah sebuah keputusan. Kau harus liat siapa yang ada disaat kau sedang terpuruk, bukan selalu ada saat kau sedang bahagia, sesungguhnya dialah yang mencintaimu Neila.”
Sepertinya Kevin sedang membandingkan dirinya dengan Yoga, memang benar yang dikatakan Kevin itu adalah perbandingan dirinya dengan Yoga. Namun perasaanku tergoyah hatiku seperti didorong untuk sadar dan membuka hati kepadanya.
“Nei, apakah kau tau perasaanku sekarang ?” Tanya dia tiba-tiba
Sebenarnya aku masih malas menjawab, namun aku berusaha menghargainya.
“Tidak”. Jawabku singkat, karena masih malas berkata-kata.
“Aku sedih melihatmu seperti ini, menangis, merintih, apakah kau benar-benar putus asa ?”
“Benarkah kau sedih?”
Tangan lembut Kevin membaluti tanganku yang gemetaran dan ia berkata,
“Ya Nei, aku benci kamu menangis karena Yoga, lelaki yang telah membuatmu terluka.”
“Apakah kamu senang, jika aku tidak menangis lagi ?”
“Tentu aku senang, aku bahagia karena kau tidak menangisi orang jahat itu Nei.”
“Kenapa kau begitu baik padaku Kevin ?”
“Karena berbuat baik itu sesuatu yang Tuhan sukai, aku ingin Tuhan suka apa yang ku lakukan padamu, menolongmu adalah suatu keinginanku, aku tidak ingin membuat orang yang ku sayang terluka.”
“Aku memang bodoh ya Vin.” Ujar Neila seperti perasaan menyesal.
“Apa maksudku Nei ? kamu mau merendahkan diri atau mau nyindir aku ? jelas-jelas kamu selalu masuk peringkat 3 besar kalo di sekolah, kamu juga sering ikut olimpiade.” Jawab Kevin dengan memotong pembicaraan Neila.
“Ya aku memang tidak bodoh dalam masalah pendidikan, namun aku tidak cukup pintar untuk menyadari siapa yang benar-benar mencintaiku.”
“Maksud kamu Nei ?”
“Aku baru sadar Vin, kalo kamu yang mengerti aku selama ini.”
Hati Kevin benar-benar sangat bahagia disitu, tak menyangka Neila akan berkata begitu.
“Aku senang kau akhirnya sadar akan hal itu Neila, tapi kalo sekalipun kamu belum menyadarinya, kesetiaan ini akan selalu menunggu Nei.”
“Tapi sekarang aku sudah sadar Vin !”
Tak butuh menunggu waktu lebih lama lagi, rasanya Kevin harus benar-benar menyatakan cinta.
“Selama aku menunggu penantianku, aku serahkan semua keputusan kepadamu, karena kamu yang menjadi penentu semuanya, apakan kamu mau bersamaku, membuka lembar kehidupan yang baru, melupakan masa lalumu, menjadi bagian hidupku Neila ?” Alunan kata-kata itu keluar dari mulut Kevin, dia tidak pernah menghafal semua kosa kata itu, namun muncul sendiri di dalam otaknya secara tiba-tiba.
Debaran jantung Kevin lebih kencang, inilah sebuah keputusan akhir akan penantiannya.
“Aku mau Kevin .”
Jawab Neila sambil memeluk bagian tubuh Kevin, tangannya melingkari bagian belakang punggungnya, pelukan pertama yang erat di dasari dengan cinta, pertama kali Kevin rasakan dari seorang Neila Astrid Tania. Hal yang samapun Kevin Albi Sananta lakukan kepada Neila.
Sesungguhnya penantian itu menunggu jawaban atas rasa penasaran yang selalu menghampiri.